Sejarah Jemaat
Wilayah pelayanan Jemaat GPM Syaloom yang lebih lazim dikenal dalam kehidupan kemasyarakatan dengan sebutan Batumeja, pada mulanya terpusat di sekitar Batumeja muka (Sektor IV pasca pemekaran jemaat yang kemudian menjadi Sektor Kasih pasca Persidangan I Jemaat GPM Syaloom tahun 1995), adalah penduduk yang mayoritas berlatar-belakang suku Ambon. Penduduk yang mendiami Kampung Batumeja terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, baik karena faktor kelahiran, maupun karena adanya urbanisasi dari masyarakat sekitarnya yang ingin melanjutkan pendidikan, mengadu nasib dan masa depannya maupun karena faktor-faktor lainnya.
Perkembangan ini secara berangsur-angsur menjangkau wilayah-wilayah sekitarnya, yakni daerah Batumeja dalam (Sektor II pasca pemekaran jemaat yang kemudian menjadi Sektor Hikmat pasca Persidangan I Jemaat GPM Syaloom tahun 1995), Daerah Kayu Tiga (Sektor III pasca pemekaran jemaat yang kemudian menjadi Sektor Pengharapan pasca Persidangan I Jemaat GPM Syaloom tahun 1995), dan daerah Batu Meja atas (Sektor I pasca pemekaran jemaat yang kemudian menjadi Sektor Anugerah pasca Persidangan I Jemaat GPM Syaloom tahun 1995), Agaknya integrasi yang diakibatkan oleh urbanisasi itu, serta merta menghasilkan suatu komunitas yng baru dengan ciri-ciri tertentu dan diterima tanpa mengalami konfrontasi, baik dalam tatanan nilai pergaulan, nilai sosial maupun dalam tatanan nilai keagamaan. Malahan eksistensi yang baru itu sama-sekali tidak pernah dipersoalkan sebagai warga Batumeja dengan segala unsur karakteristik yang melekat didalamnya.
Agaknya kondisi ini dapat terjadi karena persamaan latar-belakang perjuangan hidup sebagai pribadi dan keluarga yang berada pada lapisan masyarakat sedang kebawah, disamping kesamaan karakteristik dan corak berpikir yang lebih banyak kesamaannya dari pada bedanya.
Keberadaan hidup sebagai warga gereja telah terbentuk sejak awal pada warga penduduk suku Ambon yang mendiami Wilayah Batumeja. Hal ini ditandai dengan kenyataan historis bahwa beberapa diantara pendahulu warga Batumeja sudah menjadi orang-orang yang mengecap pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Belanda, bahkan selanjutnya mengabdi dan bekerja kepada kepentingan Pemerintah Belanda baik sipil maupun militer. Seiring dengan perkembangan Jemaat Bandar Ambon / Jemaat Khusus Kota Ambon dan pemekarannya yang melahirkan Jemaat Bethania pada tanggal 20 Mei 1973, maka persekutuan hidup warga jemaat GPM di Batumeja terkoordinir dalam suatu wilayah pelayanan yang disebut Sektor Batumeja. Kondisi ini berlangsung dalam dinamika pelayanan yang didukung oleh beberapa wadah gerejawi antara lain : Angkatan Muda GPM Ranting IX Cabang Bethania, Beberapa Paduan Suara Gerejawi, Paduan Suara Nafiri Sion (Cikal Bakal wadah Pria ), Kaum Ibu Sion (Cikal bakal Wadah Wanita).
Baru pada tahun 1976 dibawah koordinasi Majelis Jemaat pada saat itu, yang diketuai oleh Penatua I.W. Gomies (Bapak Tjak) sebagai Pimpinan Sektor, dibentuklah 5 (lima) Unit Pelayanan yakni sbb :
- Unit I meliputi wilayah Sektor I (sekarang Sektor Anugerah)
- - Unit II meliputi wilayah unit I dan II Sektor II ( sekarang unit I, II Sektor Hikmat)
- - Unit III meliputi wilayah Sektor III, (sekarang Sektor Pengharapan)
- - Unit IV meliputi wilayah unit III dan IV Sektor II, (sekarang Unit III, IV Sektor Hikmat)
- - Unit V meliputi wilayah Sektor IV (sekarang Sektor Kasih)
Selanjutnya untuk menopang aktivitas pelayanan lebih lanjut sesuai dengan tata pelayanan GPM maka dilakukan pembentukan Wadah Pelayanan Wanita, Wadah Pelayanan Pria, dan penataan pada Tunas Kecil dan Remaja.
Sejarah perjalanan terus berlangsung, dan dalam kenyataan, Unit I dimekarkan menjadi 3 Unit sebagai akibat dari perkembangan penduduk yang mendiami wilayah tersebut ( Unit 1, wilayah unit 4 sektor Anugerah sekarang, Unit 2, wilayah unit 1 Sektor Anugerah sekarang dan Unit 3, wilayah Unit 2 Sektor Anugerah sekarang.
Sejarah Gereja
Menjelang akhir tahun 1970-an keberadaan AMGPM Ranting IX Cabang Bethania yang ketika itu merupakan wadah tunggal yang menghimpun Pemuda Batumeja, mengalami perkembangan yang cukup hebat, baik dari sisi jumlah keanggotaan, maupun aktivitas yang dilaksanakan. Perkembangan jumlah keanggotaan yang begitu pesat dalam ibadah-ibadah ranting, mengakibatkan rumah-rumah anggota yang kebagian giliran ibadah, pada kenyataannya tak dapat menampung seluruh anggota AMGPM Ranting IX yang hendak beribadah. Dari kenyataan seperti itulah, maka tercetus pikiran untuk bagaimana mengupayakan sebuah gedung yang dapat mampu menghimpun aktivitas pemuda. Pikiran ini selanjutnya ditindak-lanjuti dengan dicanangkannya program AMGPM Ranting IX untuk membangun sebuah gedung sebagai sentral kegiatan pembinaan pemuda. Oleh Pengurus AMGPM Ranting IX pada saat itu, program ini selanjutnya disosialisasikan dalam kunjungan Pengurus ke rumah-rumah warga jemaat. Dari situlah munculnya kesepakatan untuk membentuk sebuah panitia guna mengkoordinir seluruh kegiatan pembangunan. Panitia pada akhirnya dibentuk, dengan melibatkan unsur-unsur AMGPM Ranting IX, Unit Pelayanan, Organisasi Gerejawi, Majelis Jemaat, serta Unsur RT/RW.
Dalam koordinasi panitia melalui berbagai upaya yang dilakukan baik oleh panitia dan dengan keterlibatan warga jemaat, selanjutnya diperoleh hasil-hasil konkrit yang antara lain sebagai berikut :
- - Penyiapan dan pembenahan lokasi pembangunan dimana turut terlibat pula warga Muslim yang bermukim di Batumeja.
- - Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung pada tanggal 18 Mei 1981, oleh Ketua Majelis Jemaat GPM Bethania, yang diwakili oleh Pdt. NN. M. Tuhuleruw dan Ketua Panitia Pembangunan.
- - Pendirian rangka bangunan, pada tanggal 18 Mei 1982
- - Penabishan pada tanggal 18 Mei 1984 oleh Ketua BPH Sinode GPM, Pdt. DR. A.N. Radjawane.
- - Pembangunan menara Tiang Lonceng oleh wadah Pria Nafiri Sion.
- - Pembangunan Konsistori oleh Majelis Jemaat Masa Bhakti 1986-1990.
- - Pembuatan Talud.
Bangunan yang diresmikan ini, berdasarkan berbagai masukan dan pertimbangan, selanjutnya dinamai Gedung Kerohanian “Syaloom” yang kemudian oleh Majelis Jemaat GPM Bethania, diperkenankan pula untuk dilaksanakan Ibadah Minggu pada Gedung kerohanian Syaloom. Sampai dengan tahun 1990, ibadah minggu pada gedung kerohanian Syaloom dilangsungkan hanya 1 (satu) kali dalam seminggu, yakni pada setiap minggu pagi. Selanjutnya aktivitas ibadah minggu di Gedung Kerohanian Syaloom berkembang dari 1(satu) kali menjadi 2 (dua) kali setiap hari minggu (Pagi dan sore). Kondisi ini berlangsung sampai dengan jemaat Bethania dimekarkan pada tanggal 8 Januari 1995.

